Saudagar Aceh Menagih 400 Kg Emas, Dulu Dipinjam Pemerintah Masa Soekarno, Kirim Utusan ke Jokowi

tribunnews
SERAMBINEWS/FOR SERAMBINEWS.COM
Iwan Gayo dan bukti cek pinjaman 400 Kg emas yang dipinjam Pemerintah RI di masa Soekarno. 

Updatenews24jam.blogspot.com - Empat bupati serumpun di dataran tinggi Gayo bersama ketua DPRK akan membahas misteri keberadaan 400 kilogram (Kg) emas milik Ali Lebe.

Ali Lebe seorang konglomerat atau saudagar Aceh di masa kesultanan pra Kemerdekaan RI.

Pihak Ali Lebe yang berasal dari Rempelam, Kecamatan Rikit Gaib, Kabupaten Gayo Lues (Galus) telah memberi kuasa kepada penulis buku pintar, Iwan Gayo untuk menelusuri keberadaan emas tersebut.

Pinjaman emas itu diberikan kepada Pemerintah RI pada masa Presiden Soekarno berkuasa melalui anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada tahun 1941 silam di Takengon, Kabupaten Aceh Tengah.

HM Iwan Gayo, dalam rilis yang diterima kepada Updatenews24jam.blogspot.com, Rabu (9/9/2020) menyebutkan, menindaklanjuti keberadaan 400 Kg emas milik Ali Lebe yang dipinjamkan Pemerintah RI pada pra kemerdekaan di masa Soekarno itu, Bupati Gayo Lues M Amru akan membahas bersama bupati dan Ketua DPRK Gayo serumpun di Blangkejeren.

"Pemerintah daerah dalam hal itu Bupati Galus akan menindaklanjuti dan membahas persoalan itu direncanakan akan diselenggarakan pada 18 September 2020 mendatang di Blangkejeren," sebutnya.

Iwan Gayo mengatakan, dalam pertemuan nantinya akan membahas langkah-langkah strategi yang akan di tempuh antara lain, mengirim delegasi muhibah menghadap Presiden Joko Widodo di Jakarta atau mengundang Presiden datang ke tanah Gayo.

tribunnews
Iwan Gayo dan bukti cek pinjaman 400 Kg emas yang dipinjam Pemerintah RI di masa Soekarno.

Iwan Gayo yang juga penulis buku pintar menambahkan, agenda yang akan dibahas yakni membaiat Presiden Jokowi sebagai warga istimewa bangsa Gayo secara kearifan lokal bangsa Gayo melalui upacara adat.

Hal ini sebagai tindak lanjut pesan terbuka Jokowi 24 Maret 2017 lalu yang menyebutkan bahwa Gayo adalah kampung halaman kedua sang presiden.

Agenda yang kedua, tulis Iwan, menyampaikan pengaduan kepada presiden tentang sejarah Islam "Serambi Mekah" dan nasib bangsa Gayo dahulu kala dan dewasa ini serta prospek masa akan datang.

Menurut Iwan, dirinya sangat yakin janji Jokowi membeli kopi Gayo sebesar Rp 1 triliun dan janji tentang provinsi untuk bangsa Gayo ketika beliau melakukan moratorium pemekaran dipenuhi atau dituntaskan sebelum akhir masa jabatan presiden pada tahun 2014 lalu, dengan diplomasi meja makan Ala Jokowi atau mendirikan besar ala Gayo.

Iwan optimis, presiden Jokowi akan menuntaskan utang piutang yang belum terbayar sebelum masa kepemerintahannya berakhir.

"Kepada pemerintah kabupaten wilayah dataran tinggi Gayo (Galus, Bener Meriah, Aceh Tengah dan Aceh Tenggara) serta pemerintah Aceh umumnya diharapkan, agar para elite memberi dukungan penuh atas program yang digagas oleh Bupati Galus dalam semangat Keramat Mufakat, Behu Berdedele," sebutnya.

Seperti diberitakan HM Iwan Gayo, penulis buku pintar asal Aceh segera menelusuri keberadaan 400 kilogram emas milik Lebe Ali, seorang pengusaha atau saudagar asal Rempelam, Kecamatan Rikit Gaib, Kabupaten Gayo Lues (Galus) yang dipinjam Pemerintah RI pada masa Presiden Soekarno berkuasa.

Emas itu diberikan melalui seorang anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada tahun 1941 di Takengon, Aceh Tengah.

Iwan Gayo dalam pernyataan tertulisnya yang diterima Updatenews24jam.blogspot.com, Senin (7/9/2020) menyebutkan, ia akan terus memburu keberadaan pinjaman 400 Kg emas tersebut seizin ahli waris di antaranya Drs Ramli S yang merupakan mantan Sekda Kabupaten Gayo Lues.

Iwan menerangkan ahli waris telah sepakat memberi kuasa kepadanya untuk mengurus pinjaman Seokarno tersebut sampai tuntas.

"Pinjaman tersebut berupa cek senilai 400 Kg emas sesuai dengan bukti cek yang dikeluarkan Bank Negara Indonesia (BNI) tertanggal 30 Juni 1941," sebutnya.

tribunnews
Iwan Gayo (kiri) saat menyerahkan buku pintar "Jejak Langkah Jokowi" kepada Fachrulsyah Mega (kanan) disaksikan penyair LK. Ara (tengah) di Perpustakaan A.Latif Pasar Raya Blok M, Jakarta.

Menurut Iwan, dirinya sangat yakin utang piutang ini bisa diselesaikan, karena Jokowi menyebutkan pada saat peresmian Bandara Rembele Bener Meriah, bahwa Tanoh Gayo merupakan rumah keduanya di Indonesia.

"Karena kedekatan itu, saya yakin Pemerintah mendukung penyelesaian persoalan utang piutang itu," tulisnya.

Dia menambahkan, dalam penyerahan cek emas tersebut akan dilakukan secara adat sebagai bukti penobatan masyarakat kepada Jokowi sebagai Putra Gayo.

"Diharapkan pemerintah Kabupaten wilayah dataran tinggi Gayo (Gayo Lues, Bener Meriah, Aceh Tengah dan Aceh Tenggara), agar memberikan dukungan penuh atas usaha ini," tegasnya.

Sementara itu secara terpisah ahli waris Lebe Ali, Drs Ramli S saat dihubungi membenarkan telah menyerahkan kuasa kepada H M Iwan Gayo untuk pengurusan pinjaman berupa emas tersebut.

Bupati Gayo Lues M Amru melalui Kabag Humas Sekdakab Drs Bunyamin mengatakan Pemkab Galus akan memberikan dukungan sepenuh atas usaha tersebut dengan harapan kepada penerima kuasa Iwan Gayo agar dapat melengkapi semua dokumen yang dibutuhkan.

"Ini merupakan salah satu upaya yang sedang dilakukan oleh seorang putra Gayo untuk menyelesaikan utang piutang dengan pemerintah pusat itu," sebutnya.

Sumbang 28 Kg Emas

Sementara itu ada seorang suudagar dan pengusaha kaya raya asal Aceh yang juga tercatat namanya dalam daftar penyumbang emas untuk Pemerintah RI.

Pengusaha asal Aceh itu bernama Teuku Markam, yang rela menyumbang sampai 28 kilogram emas saat awal pembangunan Monas.

Monas dibangun tahun 1961 dan dalam sejarahnya merupakan proyek kebanggaan Presiden Soekarno. Pembangunan Tugu Nasional ini dimaksudkan demi kebesaran Bangsa Indonesia. Saat itu selain Monas, Soekarno juga membangun proyek-proyek mercusuar seperti Hotel Indonesia, pusat perbelanjaan Sarinah, hingga Gelora Olahraga Senayan (GBK).

Diberitakan Harian Kompas, 17 April 2019, Pembangunan Monas bahkan sempat terbengkalai pada 1966-1972 karena pasang surut politik setelah peralihan kekuasaan ke rezim Orde Baru. Pada 1972, tercatat total biaya pembangunan Tugu Monas mencapai Rp 358.328.107,57.

Anggaran yang cukup besar untuk proyek Monas memaksa Soekarno mencari para dermawan dari penjuru Tanah Air. Salah satu bagian paling menarik dari Monas adalah emasnya yang berbobot lebih 30 kilogram. Seorang pengusaha asal Aceh, Teuku Markam, rela menyumbang sampai 28 kilogram emas saat awal pembangunan Monas.

Pada puncak bangunan yang menjulang setinggi 132 meter, terdapat nyala obor yang terbuat dari perunggu seberat 14,5 ton dan dilapisi emas murni seberat 35 kilogram (yang kini menjadi 50 kilogram). Uang patungan proyek Monas lainnya berasal dari sumbangan wajib pengusaha bioskop dari seluruh pelosok Tanah Air.

Sepanjang November 1961-Januari 1962 tercatat 15 bioskop menyumbang Rp 49.193.200,01. Bioskop Parepare, Sulawesi Selatan, misalnya, menyumbang Rp 7.700,60; bioskop Watampone, Sulawesi Selatan, Rp 1.364,20; dan bioskop Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Rp 884.528,85.

Teuku Markam merupakan keturunan Uleebalang yang lahir tahun 1925 di Seuneudon dan Alue Capli, Panton Labu Aceh Utara dan dinamai Teuku Marhaban. Teuku Markam sendiri sudah lama dikenal sebagai pengusaha yang dekat dengan Soekarno. Dia pernah berdinas di militer sebelum kemudian banting setir menjadi saudagar karena merasa tak cocok dengan dinas militer.

Dalam perjalanannya sebagai pengusaha kaya raya di awal kelahiran Republik, Teuku Markam banyak terlibat dalam proyek pembangunan infrastruktur di Aceh dan Jawa. Dia mendirikan perusahaan perdagangan bernama PT Markam. Markam juga tercatat sebagai eksportir pertama mobil Toyota hardtop dari Jepang.

Dengan berbagai macam bisnis itu ia bisa menjadi sangat kaya. Saking kayanya, Markam sempat membangun infrastruktur di aceh seperti membangun jalan Medan-Banda Aceh, Bireuen-Takengon, Meulaboh dan Tapaktuan. Ia juga disebut-sebut memiliki beberapa dok kapal di Jakarta, Makassar, Medan dan Palembang.

Dalam sejumlah sumber disebutkan Monas diresmikan pada 12 Juli 1975. Namun, dari penelusuran pemberitaan dan dokumen, tak ada acara peresmian Monas. Kawasan Monas dibuka untuk umum melalui Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin Nomor Cb.11/1/57/72 tanggal 18 Maret 1972.

Kubah anggun Masjid Istiqlal berdampingan dengan menara Katedral Jakarta menjadi latar belakang bagian barat Monas. Latar itu seakan membingkai semangat persatuan dalam Bhinneka Tunggal Ika, tepat di ruang pusat kekuasaan.

Selain menyumbang emas, Teuku Markam juga ikut andil dalam pembebasan lahan Senayan untuk menjadi pusat olah raga. Ia juga ikut membiayai berbagai macam yang terkait dalam melepaskan Indonesia dari penjajahan Belanda, serta ikut mensukseskan KTT Asia Afrika.

Namun karena kedekatannya dengan Soekarno pula yang membuat nasibnya berubah drastis di era Presiden Soeharto. Markam diciduk dan dijebloskan ke dalam penjara dengan tuduhan terlibat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Ia juga dianggap sebagai kaum penyembah Soekarno dan akhirnya Teuku Markam dijebloskan ke penjara pada tahun 1966.

Penderitaannya bukan hanya mendekam di penjara. Perusahaan miliknya diambil alih pemerintah dan menjadi cikal bakal BUMN bernama PT Berdikari (Persero). Yang lebih ironis, tak ada harta sedikitpun yang disisakan untuk keluarga dan anak-anaknya. Selepas dari penjara, hidup Teuku Markam tak kunjung membaik. Ia juga sering mendapat hinaan dari orang-orang karena dianggap sebagai antek PKI. Bahkan, sampai ia tutup usia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar